Life is too deep for words, so don't try to describe it, just live it.

Kamis, 18 Juni 2015

Bully

Bully itu ada yang secara fisik atau pun lewat kata-kata. Mau gimana pun bully yang dilakuin tetep aja itu nggak berdampak baik.

Gue mau cerita soal bully lewat kata-kata yang tanpa kita sadari ini sering kita temuin, nggak hanya dikehidupan nyata ataupun dunia maya.

Mikir nggak sih, orang yang hobinya ngebully itu hidupnya penuh kedengkian.
Apalagi kalo cewek, untungnya buat lo ngomong kasar, nyebar aib orang itu apa sih? Bahagian keluarga lo? Ngenyangin perut lo? Atau itu prestasi buat lo? Oh atau emang penyakit hati? Gatau lagi deh..

Mungkin ada yang niatnya becanda tapi dibilang ngebully.. Harusnya lo sadar aja, setiap kata-kata yang mau lo keluarin itu lo olah dan lo pikirin dulu.
Karna nggak semua orang bisa bedain mana omongan serius dan mana omongan becanda.

Kata-kata yang mengarah atau sekedar becanda aja itu udah bisa nyakitin. Apalagi sampe lo ngucapin kata-kata yang langsung tujuannya untuk ngebully.
Apa lo nggak sadar apa efek omongan lo itu? Oh gue lupa sih, pasti orang yang begitu mana sadar. Kan menurut mereka bahagia itu ya ngebully orang. Seneng deh. Menyedihkan banget sih.

Lo nggak akan pernah tau seberapa besar efek omongan lo buat orang itu?
Contoh simplenya. Kaya lo ngebully anak disekolah, fine kalo yang dibully santai aja. Kalo anaknya mendem itu, terus dia ngerengek ke orangtuanya untuk pindah sekolah, tapi dia nggak berani cerita alasannya, kemauan dia ditolak sama orangtuanya, dia tambah depresi, sekolah yang tadinya tempat yang indah jadi neraka buat dia, apa lo yakin dia bakal ngehasilin sesuatu yang bagus disekolah? Enggak kan, bisa aja efeknya sampe dia dewasa.

Orang yang dibully tuh ada yang bisa ngelawan, tapi gue lebih takut sama yang cuma diem. Lo nggak akan tau, entah didalem hatinya nyimpen sakit yang gatau sampai kapan ssmbuhnya.

Siapa sih yang mau nerima hinaan, cacian? Termasuk lo yang ngebully juga pasti nggak mau.
Sepele sih kalo lo ngebully orang cuma karna keadaan atau fisik.

Apalagi ada yang ngebully orang karna keadaan buruk yang diterima korban bullying itu, mikir nggak sih? Siapa sih yang minta untuk dikasih keadaan buruk, emang dia minta?
Fisik? Seenak jidat ya lo hina orang karna fisiknya. Dikehidupan nyata sering banget ada yang dibully karna fisik, tapi dia malah jadiin itu motivasi untuk berubah, endingnya dia jadi lebih baik dibanding tukang bully yang cuma hidup dalam kedengkian dengan kondisi yang gitu-gitu aja.
Dia udan berubah eh lo nya masih begitu aja. Mending lo bully aja diri lo sendiri... duh. Kzl.

Gue nggak bicara dosa disini, pasti ngertilah nggak ada agama yang ngajarin untuk ngebully.
Dan harus diinget nggak semua orang bisa ngolah omongan negatif itu jadi sesuatu yang positif, dan lo nggak akan tau seberapa besar dampak omongan lo buat dia, entah dalam jangka pendek ataupun jangka panjang.

Nggak ada salahnya kok lo jaga omongan.
Apa salahnya tutup mulut untuk hal yang nggak baik apalagi bisa nyakitin orang, lo nggak akan pernah tau berapa lama sakit hati atau kepikirannya dia karna omongan lo. Seberapa ngaruhnya omongan lo buat dia.
Nggak cewek dan nggak cowok, mau sebagus apapun lo, kalo punya hati yang dengki apalagi suka ngeluarin kata-kata kasar tuh. Ya lo pikir aja, bagusny lo bakal ketutup sama aura negatif lo.

Kzl.

Rabu, 17 Juni 2015

Move On


"Saat lo patah hati dan ngerasa lo susah move on, lo harus inget kalo lo pernah ngerasain masalah hidup yang lebih berat dibanding masalah cinta kaya gini."

Dan itu yang selalu gue jadiin pedoman gue saat gue harus lupain seseorang.
Entah siapapun itu.

Menurut gue, move on itu masalah waktu dan seberapa besar keinginan lo untuk bangkit.

Kalo gue tipe orang yang kalo move on, nggak harus ngehapus atau jaga jarak. Tapi gue cukup ngendaliin perasaan aja.

Ngendaliin perasaan itu penting banget, itu akan buat lo bisa tau diri.
Kaya lo naksir sama pacar orang, seberapa besar perasaan lo. Kalo lo bisa ngendaliin itu dengan baik, semua yang buruk nggak akan kejadian kok.
Lo nggak bisa nyalahin perasaan yang datang, karna perasaan itu kaya demam. Datang dan perginya nggak ketebak, tapi punya gejala...
Jadi cara paling bagus itu dengan ngendaliin perasaan lo sendiri.

Begitupun saat lo naksir seseorang, saat lo bisa ngendaliin perasaan itu dengan baik. Lo nggak akan ngerasain sakit yang terlalu dalam. Ya.. sakit sih pasti, tapi seenggaknya nggak separah yang nggak bisa ngendaliin perasaannya sendiri.

Move on..
Mau lo pacaran bertahun-tahun kalo emang putus dan nggak ada jalan untuk balikan lagi, ya masa lo harus terus inget dan hidup dengan kenangan lo yang banyak itu.
Move on itu bukan bisa tapi harus bisa dan pasti bisa kok.

Diam

Aku pernah dengan sempurna mencintaimu dalam diam.
Dengan sempurna menyembunyikan rasa yang menggebu.
Dengan sempurna pula aku menyiksa hatiku sendiri.

Tanpa sepatah kata pun, kamu datang dengan cinta.
Memejamkan mata pun aku dapat melihat ini cinta.

Cinta bagiku saat itu hal yang paling membahagiakan dan pula paling menyakitkan.
Bahagia yang aku ciptakan sendiri.
Dan sakit pun yang aku rasakan sendiri.
Semuanya serba salah.

Aku hanya wanita yang mampu mencintai dalam diam.
Sebelum ada yang memulai.
Mungkin aku akan terus diam.
Entah tak tau sampai kapan.
Entah sampai aku lelah.
Atau sampai hati ini benar-benar rapuh.

Senin, 15 Juni 2015

Patah Hati

Banyak hal yang bisa gue pelajarin dari patah hati.
Mungkin bukan cuma gue.
Makin dewasa, gue makin bisa ngerti.
Dimana gue selalu ingat saat kekecewaan itu mengajarkan, kesedihan itu mendewasakan, dan bagaimana kesakitan itu menguatkan.

Nggak ada orang yang mau ngerasain patah hati.
Dan andai menyembuhkan itu secepat saat kita terjatuh, mungkin nggak akan ada keraguan untuk memulai.
Saat kita jatuh cinta tanpa alasan, kita cuma berharap perasaan itu dihargai, bahkan dibalas.
Nggak ada yang lebih membahagiakan dimana kita punya perasaan yang sama dengan orang yang kita cintai.

Cinta itu lebih butuh balasan dibanding harus diberi alasan.

Saat lo patah hati, berterima kasihlah sama Tuhan.
Karena dia udah matahin hati lo, sebelum semuanya terlalu jauh.
Nggak ada hal yang datang tanpa alasan atau kebetulan.
Semua punya jalan dan alasannya sendiri.
Begitupun dengan patah hati.
Dengan patah hati, lo bisa tau apa kurang nya lo.
Lebih nya lo.
Dan dari sana lo akan lebih yakin untuk dapet yang lebih baik. Dengan pelajaran yang lo ambil dari patah hati.

Patah hati nggak selalu soal galau.
Lo bisa hadapin itu semua dengan ngelakuin hal yang lebih positif.
Kita emang manusia yang nggak dengan sekejap bisa menerima, memaafkan, dan melupakan.
Tuhan pun tahu, dia akan memberi lo waktu.
Bukan untuk terus lo ratapi sakit hati itu.
Tapi lo terima dan akhirnya lo bisa lebih baik dan kuat dari sebelumnya.

Patah hati itu mengajarkan.
Dimana nggak semua akan terjadi kaya apa yang lo pikirin.
Lo harus siap dengan berbagai macam resiko tentang hal yang lo harapkan.

Pergi

Kamu yang semu.
Kini semakin tak ada.
Tak membekas.
Layaknya bayangan, aku kehilangan cahaya.
Hingga aku redup.
Tak ada lagi hal yang membahagiakan darimu.
Tak ada lagi cerita yang selalu kau bagi.
Mungkin aku hanya rindu.
Tak ada alasan aku berharap semuanya kembali.
Tak ada alasan aku berharap semuanya akan terulang bahkan terjadi lagi.
Aku hanya rindu.
Aku hanya belum rela.
Aku hanya belum mampu melepas semuanya pergi secepat ini.
Aku hanya butuh waktu.
Untuk berdoa.
Untuk makin mengerti apa itu keikhlasan.
Layaknya yang akan aku lakukan untuk semua ini.
Aku mengikhlaskannya.

Senin, 08 Juni 2015

Saat Kau Tak Dapatkan Apa Yang Kau Mau

Berlarilah sampai jauh, sampai kau lupa tentang apa yang terjadi disini.
Berteriaklah sekeras yang kau mau, sampai kau tak mendengar apa yang tak mau kau dengar.
Namun harus kau sadari, sekeras apapun kau menolak yang terjadi.
Tak akan membuat ini semua kembali.
Saat waktu yang harusnya mampu kau lalui justru kau sia sia kan.
Saat semua nya telah pergi, kau hanya mampu berlari hanya mampu berteriak.
Tidak kah kau terlalu bodoh?
Tidak kah kau terlalu kekanak kanakan?
Berlarilah sampai kau merasa itu tempat yang paling jauh.
Berteriaklah sampai kau puas.
Tapi bukan itu yang harusnya kau lakukan.
Berkacalah.
Sadarlah.
Kembalilah untuk membenahi yang telah kau rusak.
Kembalilah untuk mengambil apa yang seharusnya mampu kau ambil.
Pelajaran...
Kemana pun kau melangkah, tak akan kau dapatkan perasaan sebahagia saat kau mampu untuk menjalani ini semua.
Perasaan penuh pengalaman, saat kau mendewasakan dirimu lewat kejadian.
Jangan rasakan kecewanya, tapi rasakan pendewasaan yang kau dapatkan.