Life is too deep for words, so don't try to describe it, just live it.

Rabu, 29 Juli 2015

Lembaran Kertas Usang

Aku hanya kertas usang.
Yang kau datangi saat tak ada sosok yang mampu memahamimu.
Yang kau tulis dengan berbagai kata-kata dari lubuk hati terdalam.
Aku hanya kertas usang.
Yang kau sembunyikan dengan rapih.
Hingga tak ada yang membaca setiap kata yang kau tulis.

Aku hanya kertas usang yang kau teteskan air matamu saat kesedihan menyelimuti hatimu.
Kesedihan yang tak dapat kau bagi dengan siapapun.
Dengan banyak kata keluhan, dan permohonan kepada Tuhan atas apa yang kau harapkan untuk keadaan saat itu.

Aku ingin menjadi kertas usang yang kau beri senyuman indah saat kebahagiaan telah menghampirimu.
Tapi... aku hanya kertas usang yang kau isi dengan kesedihanmu.
Kau simpan dengan rapih.
Bahkan aku menunggu kapan kau akan membukaku lagi.

Saat kebahagiaanmu telah tiba, rasanya tak ada kata yang kau tulis padaku.
Rasanya aku sudah hafal, bahwa kau pasti akan datang saat keadaan yang sama datang lagi.
Keadaan saat kau merasa kesedihan yang teramat dalam.

Saat lembaranku telah habis dengan kesedihan yang kau tulis.
Aku yakin tak akan ada waktu bagimu untuk membuka aku kembali.
Bahkan bisa saja kau buang.
Karna membaca ku pasti akan membuatmu mengingat hal buruk yang telah terjadi padamu.

Sampai kapanpun aku hanya kertas usang yang akan terbuka saat kau membukanya.
Dan akan terus ada ditempat yang sama, ditempat yang hanya kau seorang lah yang mengetahuinya.

Selasa, 21 Juli 2015

Maaf

Aku tak seacuh yang kau duga, yang kau kira tak peka.
Aku begitu mengerti setiap hal kecil yang kau beri.
Bukan aku tak punya hati, hanya terlalu takut jika ini hanya semu.
Semua tak seperti yang kau duga, selalu ku tujukan doa ku untukmu selalu.
Jika aku dan kamu tak bisa menjadi kita, setidaknya kamu dan aku pernah sama-sama mempunya arti dihati kita.
Walaupun aku tahu, akan ada saatnya kita berdua bertemu tanpa rasa yang sama lagi.
Rasamu yang kuat, namun dipatahkan oleh ketakutan ku.
Dan rasa ku yang jauh lebih kuat, namun dapat ku patahkan sendiri dengan keegoisan ku.
Maafkan aku..
Jika kamu menyesal atas perasaanmu.
Aku lebih menyesal karna menyia-nyiakanmu.
Aku merasa bodoh, egois, dan tak layak untuk kau perjuangkan sebegitunya.
Maafkan aku..
Seharusnya bukan aku, bukan aku yang tak punya hati ini yang harus kau perjuangkan.

Aku hanya mampu membuka hati tapi tak tak membuka mata dengan jelas.
Sampai aku tak dapat melihat rintihan sakit yang ku goreskan kepadamu.
Aku tak pernah berharap rasamu akan ada lagi.
Aku hanya berdoa agar kita berdua dapat sama-sama bahagia dengan rencana Tuhan.